temanmedia.id, BANJARMASIN – Kompleksitas tantangan kesehatan masyarakat Kota Banjarmasin mendapat perhatian serius dari jajaran pemerintah daerah.
Di tengah ancaman penyakit menular seperti TBC dan HIV/AIDS yang belum sepenuhnya mereda, grafik Penyakit Tidak Menular (PTM) seperti hipertensi, diabetes melitus, hingga ISPA juga menunjukkan tren peningkatan yang menuntut kewaspadaan ekstra.
Merespons kondisi tersebut, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Banjarmasin menggelar Rapat Koordinasi, Advokasi, dan Sosialisasi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) di Hotel Rattan Inn Banjarmasin, Rabu (4/11/2026).
Agenda strategis yang dijadwalkan berlangsung selama dua hari ini dibuka secara resmi oleh Wali Kota Banjarmasin H. Muhammad Yamin HR, serta dihadiri jajaran camat, kepala puskesmas se-Kota Banjarmasin, dan perwakilan dinas terkait.
Pertemuan lintas sektor ini dirancang sebagai wadah konsolidasi untuk menyelaraskan arah kebijakan, memperkuat alur koordinasi, serta membakar semangat para tenaga medis maupun pemangku kepentingan agar dapat bergerak serentak dalam meningkatkan derajat kesehatan warga Banua.
“Pembangunan kesehatan merupakan pilar penting. Kita ingin mencetak masyarakat Banjarmasin yang tidak hanya sehat dan produktif, tapi juga maju dan sejahtera,” ujar Yamin.
Ia membeberkan bahwa temuan kasus hipertensi di Kota Banjarmasin saat ini tergolong sangat tinggi dan memerlukan penanganan preventif dari hulu.
Sebagai bentuk komitmen nyata, Pemko Banjarmasin berencana mengucurkan anggaran khusus guna mengintervensi masalah ini secara menyeluruh.
“Kalau tidak salah, kasus hipertensi di tempat kita termasuk yang tinggi. Ini jadi catatan penting, pada tahun 2027 mendatang alokasi anggaran penanganan hipertensi akan disiapkan sekitar Rp800 juta. Karena itu, sosialisasinya harus kita lakukan jauh lebih masif lagi di masyarakat,” lanjutnya.
Guna memastikan setiap program berjalan efektif, Yamin mengibaratkan jajaran birokrasi yang dipimpinnya seperti awak dalam satu perahu besar.
Ia menginstruksikan seluruh jajaran Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) hingga fasilitas kesehatan tingkat pertama untuk menanggalkan ego sektoral.
“Kita ini ada di dalam satu kapal besar. Tidak boleh ada ego sektoral. Kita harus mengayuh bersama dengan alunan yang sama agar tujuan tercapai lebih baik,” bebernya.
Yamin pun menaruh harapan besar agar forum rapat koordinasi ini mampu memantapkan sinergi serta menyamakan persepsi seluruh pemangku kebijakan, sehingga pelaksanaan agenda P2P di Banjarmasin berjalan secara terukur dan berkesinambungan.
Dalam kesempatan yang sama, Kepala Dinas Kesehatan Kota Banjarmasin Yanuar Diansyah menyampaikan bahwa penguatan koordinasi program P2P menyasar dua indikator utama.
“Pertama, kita fokus meningkatkan kualitas layanan SPM kesehatan daerah. Upaya pencegahan dan penanganan penyakit seperti DBD harus kita lakukan secara cepat dan tepat,” tegasnya.
Sasaran kedua, menurut Yanuar, adalah terbangunnya ruang komunikasi yang solid antara jajaran SKPD terkait dan 28 puskesmas di seluruh wilayah Banjarmasin demi merumuskan rencana aksi berbasis fakta dan kondisi riil di lapangan.
“Selain itu menjadi wadah strategis bagi penguatan lintas sektor antar SKPD maupun 28 Puskesmas se-Kota Banjarmasin sehingga kita bisa menyusun rencana aksi terpadu berdasarkan kondisi riil kesehatan masyarakat saat ini,” jelasnya.
Sebagai bentuk apresiasi atas dedikasi dalam menjaga mutu pelayanan publik, Pemko Banjarmasin turut menyerahkan penghargaan kepada sejumlah puskesmas yang berhasil mencatatkan raihan SPM terbaik sepanjang tahun 2026 hingga Triwulan III.
Adapun daftar fasilitas kesehatan penerima penghargaan SPM Terbaik Kota Banjarmasin yakni:
-
Program Hipertensi: Puskesmas Pemurus Baru
-
Program Diabetes Mellitus: Puskesmas Sungai Andai
-
Program Usia Produktif: Puskesmas 9 Nopember
-
Program ODGJ: Puskesmas Alalak Selatan
-
Program TBC: Puskesmas Sungai Bilu
-
Program HIV: Puskesmas Terminal

Tinggalkan Balasan