temanmedia.id, BANJARMASIN – Program Banua Film Fund 2026 resmi diluncurkan dengan menayangkan lima film pendek karya sineas lokal Kalimantan Selatan di Bioskop KCM Belda, Sabtu (31/10/2026).

Kelima film tersebut merupakan hasil karya sineas dari berbagai komunitas dan rumah produksi lokal. Masing-masing mengangkat cerita yang dekat dengan kehidupan masyarakat Banua, mulai dari budaya tradisional, persoalan sosial, hingga kisah kehidupan sehari-hari.

Film Rasi: Arah Pulang karya Kaya Film mengangkat kisah tiga pemuda pesisir, Rasi, Baco, dan Amin, yang terjebak di tengah laut saat badai. Ketika kompas mereka tenggelam, ketiganya berusaha menemukan arah dengan memanfaatkan pengetahuan tradisional tentang navigasi bintang. Film ini turut menggambarkan budaya maritim masyarakat Desa Rampa, Kabupaten Kotabaru, serta tradisi Massalama Ritasi’e.

Selanjutnya, Misi 41 karya Pagi Collective menceritakan perjuangan Amat dan Ijul mengumpulkan 41 jenis wadai atau kue tradisional Banjar untuk keperluan Baayun Maulid. Di balik misi tersebut, film ini juga menyajikan persoalan keluarga yang menjadi bagian dari perjalanan kedua tokohnya.

Film Tamakan Dabu karya Layar Tanbu mengangkat kisah seorang pemuda dengan penyakit batuk kronis yang berusaha mengikuti perlombaan Madihin. Ceritanya turut menyoroti kondisi jalan bekas tambang yang rusak dan berdebu, serta menggambarkan persahabatan dan upaya menjaga kesenian tradisional.

Sementara itu, Malamar Gawian karya Ngerujaks Studio menyajikan komedi satir tentang perjuangan seorang lulusan perguruan tinggi dalam mencari pekerjaan. Film tersebut menggambarkan tekanan keluarga dan lingkungan sosial yang kerap dihadapi para pencari kerja.

Adapun Jangan Dicium karya Miniatur Production mengusung genre komedi romantis. Film ini bercerita tentang Jali dan kisah percintaannya yang berkaitan dengan aroma tubuh serta tradisi batimung masyarakat Banjar.

Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kalsel, Edy Suwarto, berharap program tersebut dapat menjadi ruang bagi sineas daerah untuk mengembangkan karya hingga dikenal lebih luas.

“Kami berharap ke depan ini bukan cuma bersifat lokal dan regional, tapi juga nasional dan internasional,” ujarnya.

Ia juga menyampaikan bahwa pemerintah berencana membangun sistem yang terintegrasi dengan yayasan serta lembaga seni dan budaya untuk mendukung perkembangan perfilman daerah.

Melalui Banua Film Fund 2026, Disdikbud Kalsel bersama Forum Sineas Banua berupaya memberikan ruang bagi sineas lokal untuk menghasilkan karya sekaligus memperkenalkan budaya dan berbagai cerita dari Kalimantan Selatan kepada masyarakat luas. (MD)