BANJARMASIN – Basarnas Banjarmasin bersama seluruh unsur SAR gabungan resmi menghentikan operasi pencarian korban tenggelamnya KM Virgo Transport 8 di perairan Laut Jawa pada Rabu (4/11/2026). Keputusan tersebut diambil setelah 53 hari pencarian dilakukan tanpa perkembangan signifikan. Meski operasi lapangan dihentikan, sebanyak 53 penumpang masih belum ditemukan dari total 243 orang yang tercatat dalam manifes kapal.
Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Kelas A Banjarmasin, I Putu Sudayana, mengatakan penghentian operasi merupakan hasil kesepakatan bersama setelah dilakukan evaluasi terhadap seluruh tahapan pencarian. Berbagai kemampuan dan peralatan telah dikerahkan untuk menjangkau lokasi yang diperkirakan berkaitan dengan keberadaan korban. Namun, hingga hari terakhir, tim belum menemukan petunjuk baru yang dapat ditindaklanjuti.
“Hasil pencarian hingga hari terakhir belum menunjukkan adanya petunjuk baru yang dapat ditindaklanjuti,” ujarnya.
Sudayana menjelaskan, penghentian operasi berpedoman pada Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2014 tentang Pencarian dan Pertolongan. Meski demikian, pencarian masih dapat diperpanjang apabila hasil evaluasi menunjukkan adanya peluang atau tanda-tanda keberadaan korban.
“Dengan hasil evaluasi bersama, operasi saat ini kita tutup. Apabila masih ditemukan tanda-tanda keberadaan korban, tentunya pencarian dapat kembali diperpanjang,” ujar Sudayana dalam konferensi pers di Kantor Pelindo Banjarmasin.
Selama operasi berlangsung, tim SAR gabungan menggunakan tiga metode pencarian, yakni pemantauan melalui udara, penyisiran menggunakan armada laut, serta pemeriksaan di bawah permukaan air oleh tim penyelam. Jangkauan pencarian juga diperluas hingga kawasan pesisir Kalimantan Selatan, sejumlah titik di Kalimantan Tengah, bahkan mendekati perbatasan Kalimantan Barat. Pulau-pulau tidak berpenghuni turut diperiksa untuk memastikan kemungkinan adanya korban di wilayah tersebut.
Operasi ini melibatkan berbagai instansi dan lembaga, di antaranya TNI, Polri, Basarnas, Kementerian Perhubungan, pemerintah daerah, BMKG, Jasa Raharja, serta unsur pendukung lainnya. Namun, setelah lebih dari satu setengah bulan pencarian dilakukan dengan berbagai metode, belum ditemukan petunjuk tambahan mengenai keberadaan 53 penumpang yang masih hilang.
Di sisi lain, proses salvage atau pengangkatan bangkai kapal hingga kini belum terlaksana. Tahapan tersebut masih dalam proses dan berpotensi menjadi dasar untuk melanjutkan pencarian. Basarnas menyatakan tetap memantau perkembangan di lapangan, terutama apabila muncul informasi baru atau terdapat kemajuan dalam rencana pengangkatan kapal.
Menurut Sudayana, apabila proses salvage dapat dilaksanakan dan ditemukan indikasi keberadaan korban, Basarnas siap kembali mengaktifkan operasi SAR. Dengan demikian, penghentian pencarian intensif kali ini tidak menutup kemungkinan dilakukannya pencarian lanjutan.
Sementara itu, salah satu perwakilan keluarga korban, Stevanus, berharap Presiden Prabowo Subianto turun tangan untuk mendorong pemilik kapal dan perusahaan asuransi agar segera mempercepat proses pengangkatan bangkai kapal. Ia mengaku keluarga telah lama menunggu kepastian dan mempertanyakan sejumlah janji yang hingga kini belum diwujudkan melalui tindakan nyata.
“Kami meminta Presiden Prabowo untuk turun tangan menekan pemilik kapal dan pihak asuransi agar proses pengangkatan dipercepat. Kami merasa dibohongi dengan janji-janji yang terus diulur, padahal kami yakin sisa keluarga kami yang hilang masih terjebak di dalam bangkai kapal itu. Tolong kerahkan penyelam secara mandiri sekarang tanpa harus menunggu kapal diangkat,” ujar Stevanus.
Selain mendesak percepatan pengangkatan kapal, keluarga korban juga meminta agar penyelam independen dikerahkan untuk melanjutkan pencarian tanpa harus menunggu seluruh tahapan pengangkatan bangkai kapal selesai.
Di sisi lain, Kementerian Perhubungan disebut telah memberikan peringatan keras kepada PT Virgo Karya Shipping (VKS). Perusahaan tersebut diminta segera menyelesaikan kelengkapan administrasi asuransi agar rencana pengangkatan kapal oleh tim lokal dapat segera dilaksanakan.
Juru Bicara PT VKS, Simson Fransiscus Rihi, mengungkapkan bahwa perusahaan telah melakukan sejumlah langkah awal, salah satunya membersihkan sisa minyak dan material pencemar di dalam badan kapal. Upaya tersebut dilakukan untuk meminimalkan potensi pencemaran laut sekaligus mendukung persiapan penyelam dalam pemeriksaan dan pengangkatan kapal.
Namun, pekerjaan di bawah laut menghadapi berbagai kendala, mulai dari perubahan cuaca, derasnya arus bawah laut, hingga aktivitas kapal-kapal besar yang melintas. Kondisi tersebut kerap memaksa tim menghentikan pekerjaan sementara demi keselamatan. Dalam situasi tertentu, waktu penyelaman bahkan hanya dapat berlangsung sekitar dua hingga dua setengah jam.
“Kami terus melakukan komunikasi dan meminta bimbingan serta arahan dari tim Basarnas. Karena dalam hal ini mereka lebih berpengalaman dan mempunyai keahlian, sehingga kami akan bekerja sama dengan tim Basarnas,” ujar Simson.
Saat ini, PT VKS masih mengkaji dua alternatif untuk mengangkat bangkai kapal, yakni memotong bagian kapal di bawah permukaan laut atau mengapungkan kembali bangkai kapal. Penentuan metode tersebut mempertimbangkan aspek teknis, keselamatan pekerja, serta kondisi perairan. Terlebih, cuaca mulai memasuki masa peralihan yang berpotensi menimbulkan gelombang tinggi dan angin kencang.
Simson juga membenarkan bahwa perusahaan telah menerima teguran keras dari Kementerian Perhubungan karena belum adanya kepastian pelaksanaan pengangkatan bangkai kapal. Sebagai tindak lanjut, PT VKS dijadwalkan bertemu dengan tim TNI pada 13 November 2026 untuk membahas metode salvage sekaligus menentukan pihak yang akan bertanggung jawab melaksanakan pengangkatan.
“Rencananya tanggal 13 kami ada pertemuan dengan tim TNI untuk bisa memutuskan siapa yang akan menjadi pelaksana dalam hal ini. Mohon doanya supaya segera bisa diputuskan,” ungkapnya.
Diketahui, KM Virgo Transport 8 tenggelam pada Minggu dini hari, 13 September 2026. Berdasarkan rekapitulasi akhir, dari total 243 orang dalam manifes kapal, sebanyak 108 penumpang dinyatakan selamat, 82 orang ditemukan meninggal dunia, sedangkan 53 lainnya masih belum ditemukan.
Penghentian operasi pencarian intensif ini menyisakan harapan bagi keluarga korban yang masih menunggu kepastian nasib anggota keluarga mereka. Proses pengangkatan bangkai kapal pun menjadi salah satu tahapan yang dinantikan untuk membuka peluang pencarian lanjutan.

Tinggalkan Balasan