temanmedia.id, BANJARMASIN – Sampah plastik di lingkungan RT 43, Kelurahan Telaga Biru, Kota Banjarmasin, mulai diarahkan untuk tidak hanya dikumpulkan dan dipilah, tetapi juga diolah menjadi bahan yang memiliki nilai guna.

Upaya tersebut dilakukan melalui pendampingan Tim Program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) BIMA Universitas Lambung Mangkurat (ULM) di Bank Sampah Baiman Cempaka Raya, Minggu (20/9/26).

Dalam kegiatan tersebut, tim kembali membawa dukungan teknologi berupa satu unit mesin peleleh plastik. Setelah sebelumnya tim pengabdian juga telah memberikan satu unit mesin pencacah plastik.

Sehingga pada kegiatan ini, kedua mesin tersebut langsung dilakukan uji coba oleh tim dosen dengan melibatkan sejumlah mahasiswa Fakultas Teknik ULM untuk membuat paving bloke dari plastik sampah.

Kehadiran dua mesin tersebut menjadi bagian dari upaya mendorong pengelolaan sampah plastik hingga ke tahap pengolahan.

Tim PKM BIMA ULM bersama pengelola Bank Sampah Baiman Cempaka Raya berfoto bersama usai penyerahan dan uji coba mesin pengolahan sampah plastik di Kelurahan Telaga Biru Banjarmasin.

Plastik yang sebelumnya hanya dipilah dan dikumpulkan nantinya dapat dicacah, kemudian dilelehkan untuk dimanfaatkan sebagai bahan produk tertentu, termasuk peluang pengembangan paving block.

Ketua Tim PKM BIMA ULM, Dr. Irwansyah, S.Sos., M.Si., mengatakan uji coba dilakukan untuk memastikan alat dapat dimanfaatkan secara langsung oleh masyarakat.

“Sehingga hari ini kita melakukan uji coba alat peleleh dan juga mesin pencacah yang kita serahkan kepada Bank Sampah Baiman ini, yang dibuat oleh mahasiswa kita dari Fakultas Teknik,” ujarnya.

Menurut Irwansyah, teknologi tersebut tidak dimaksudkan hanya sebagai bantuan alat. Setelah proses uji coba, pihaknya akan melanjutkan pendampingan dan monitoring agar mesin dapat digunakan secara rutin.

“Kami mengharapkan nanti mesin ini berjalan secara kontinu dan bisa menghasilkan. Nanti kami adakan pendampingan dan monitoring supaya mesin ini berkelanjutan,” katanya.

Mesin tersebut merupakan hasil penelitian dan pengembangan mahasiswa ULM. Dalam pembuatannya, mahasiswa Fakultas Teknik ULM terlibat bersama tim dosen dan mendapat bimbingan dari Akhmad Syarief, S.T., M.T.

Dr. Irwansyah berharap pemanfaatan mesin ke depan dapat berkembang dari kebutuhan internal Bank Sampah Baiman menjadi kegiatan produksi yang memberikan manfaat ekonomi bagi warga.

“Di samping digunakan sendiri, ke depannya sudah bisa produksi untuk dijual, terutama sekali untuk masyarakat sekitar,” ujarnya.

Ia menilai potensi tersebut cukup terbuka karena masyarakat di kawasan Telaga Biru mulai terbiasa melakukan pemilahan sampah. Karena itu, RT 43 diharapkan dapat menjadi contoh pengelolaan sampah yang tidak berhenti pada pemilahan.

“Kami ingin sebenarnya RT 43 Kelurahan Telaga Biru ini menjadi tempat rujukan. Bagaimana pemilahan sampah, kemudian bagaimana pengolahan sampah yang bernilai ekonomi,” jelasnya.

Pengelolaan tersebut, lanjutnya, dapat dimulai dari rumah. Sampah organik dapat dimanfaatkan menjadi kompos, sementara sampah plastik dipilah untuk dijual atau diolah kembali menggunakan teknologi yang tersedia.

“Mulai pilah sampah dari rumah, kemudian bagaimana nanti pilah sampah itu menghasilkan kompos, kemudian plastik-plastiknya bisa dijual, dan yang lainnya nanti kita manfaatkan dengan pembuatan paving block,” pungkas Dekan FISIP ULM ini.

Ketua Bank Sampah Baiman sekaligus Ketua Karang Taruna Cempaka Raya, Sulistyo, menyambut baik dukungan tersebut. Menurutnya, tambahan peralatan membuat proses pengolahan sampah plastik memiliki peluang untuk dikembangkan lebih jauh.

Selain membantu pengelolaan sampah, keberadaan mesin juga diharapkan dapat mendorong warga lebih aktif memilah sampah sejak dari rumah.

Sementara itu, Ketua RT 43, Saring Triyogo, mengatakan masyarakat saat ini masih berada dalam tahap membangun kebiasaan memilah sampah sekaligus meningkatkan pemahaman mengenai pengelolaannya.

“Untuk warga RT 43 ini sementara masih tahap pemilahan sampah dengan meningkatkan sumber daya manusianya,” kata Saring.

Ia mengakui masih ada sejumlah kendala dalam proses tersebut. Namun, bantuan mesin dari ULM dinilai menjadi salah satu dukungan untuk meningkatkan kemampuan warga dalam mengolah sampah.

Menurut Saring, pemilahan sampah juga sejalan dengan arahan Pemerintah Kota Banjarmasin dalam upaya mengurangi sampah plastik.

Untuk sementara, hasil pemanfaatan mesin akan diarahkan bagi kebutuhan warga sekitar. Jika proses pengolahan sudah berjalan dengan baik, pemanfaatannya akan dikembangkan agar memberikan nilai ekonomi.

“Sementara pribadi untuk warga dulu, kalau sudah berjalan dan berhasil di sini, baru kita kembangkan hingga menjadi nilai ekonomi bagi warga di sini,” pungkasnya.