temanmedia.id, BANJARMASIN – Sebanyak lima narasumber dari kalangan akademisi dan pegiat lingkungan berbagi wawasan tentang perubahan iklim, konservasi, serta pelestarian keanekaragaman hayati dalam Seminar dan Aksi Dendrophile yang digelar di SMA Islam Insan Madani Banjarmasin, Sabtu (6/6/2026).

Kegiatan yang mengusung tema “Dari Alam, untuk Iklim, Demi Masa Depan: Sinergi Berdampak BioEdu-Konservasi Menuju SDGs 2030” tersebut menjadi bagian dari peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026.

Adapun tujuan kegiatan yang digelar secara luring dan daring tersebut menjadi wadah edukasi sekaligus aksi konservasi yang melibatkan pelajar, guru, akademisi, dan pegiat lingkungan.

Seminar ini terselenggara atas kolaborasi Himpunan Mahasiswa Pendidikan Biologi, Himpunan Mahasiswa Magister Pendidikan Biologi, Rural Urban Hygieia, Pemuda Mangrove Nusantara, serta Benteng Konservasi Hewan dan Tumbuhan.

Suasana kepedulian terhadap lingkungan sudah terasa sejak awal kegiatan. Para peserta bersama pihak sekolah melakukan penanaman berbagai jenis buah lokal khas Kalimantan Selatan seperti tarap dan durian lokal di lingkungan SMA Islam Insan Madani.

Ketua Yayasan, Kepala SMA Islam Insan Madani Heri Siswanto, S.E., para guru, siswa, dan panitia turut ambil bagian dalam penanaman pohon yang menjadi simbol komitmen menjaga kelestarian alam sekaligus melestarikan keanekaragaman hayati daerah.

Aksi tersebut menjadi pesan bahwa menjaga lingkungan tidak selalu harus dimulai dari langkah besar, melainkan dari tindakan sederhana yang dilakukan secara konsisten di lingkungan sekitar.

Selain aksi penanaman, peserta juga mendapatkan berbagai wawasan mengenai perubahan iklim, konservasi, dan pentingnya menjaga ekosistem melalui seminar yang menghadirkan sejumlah narasumber dari kalangan akademisi dan pegiat lingkungan.

Narasumber pemateri pertama, Zevira Fransisca Aurora, S.Pd., M.Pd., menyampaikan kegiatan dengan tema Climate Change Education: A Sustainable Future Begins with Awareness.

Dalam pemaparannya, ia menekankan pentingnya membangun kesadaran lingkungan sejak usia muda sebagai fondasi masa depan yang berkelanjutan.

“Masa depan yang berkelanjutan tidak dimulai dari perubahan besar, tetapi dari kesadaran kecil yang tumbuh hari ini dan diwujudkan dalam tindakan nyata esok hari. Awareness today, action tomorrow, sustainability forever,” ujarnya.

Menurut Zevira, pendidikan lingkungan harus menjadi bagian penting dalam proses pembelajaran agar generasi muda tidak hanya memahami isu perubahan iklim, tetapi juga mampu mengambil peran dalam menghadirkan solusi.

Senada dengan itu, Narasumber kedua, Opik Prasetyo, S.Pd., M.Pd., melalui materi Climate Change Education: One Student, One Green Action, mengajak generasi muda untuk mengambil peran dalam menjaga lingkungan melalui tindakan sederhana yang dilakukan secara konsisten.

“Perubahan besar untuk lingkungan bisa dimulai dari satu tindakan kecil. Satu pelajar, satu aksi hijau. Mulai dari mengurangi sampah, menghemat energi, hingga menanam pohon, semuanya akan memberikan dampak positif bagi masa depan bumi,” ujarnya.

Di sisi lain, Narasumber kedua, Fathimatuzzahra membawakan materi Pengenalan Buah Lokal Terancam Punah Kalimantan untuk Gen-Z mengajak para pelajar untuk lebih mengenal dan mencintai kekayaan hayati daerah yang mulai terancam keberadaannya.

“Banyak buah lokal Kalimantan yang memiliki nilai ekologis, budaya, dan ekonomi, namun kini mulai jarang ditemukan. Generasi muda perlu mengenalnya sejak sekarang agar tumbuh rasa memiliki dan keinginan untuk ikut melestarikannya,” ujarnya.

Tak hanya itu, peserta juga diajak mengenal lebih dekat peran tumbuhan Ficus sebagai penyelamat ekologi Kalimantan melalui pemaparan Muhammad Farhan Azhari, S.Pd.Gr., M.Pd. Ia menjelaskan bahwa Ficus memiliki fungsi ekologis yang sangat penting karena menjadi sumber pakan bagi berbagai jenis satwa liar dan berperan dalam menjaga keseimbangan ekosistem hutan tropis.

“Ficus sering disebut sebagai pohon kehidupan karena buahnya tersedia hampir sepanjang tahun dan menjadi sumber makanan bagi banyak satwa. Keberadaannya sangat penting dalam menjaga keberlanjutan ekosistem,” ujar Farhan.

Selain memperkenalkan nilai ekologis Ficus, ia juga menekankan pentingnya pemanfaatan teknologi digital dalam upaya konservasi. Menurutnya, digitalisasi data tumbuhan dapat menjadi sarana efektif untuk mendokumentasikan, memetakan, dan memperkenalkan keanekaragaman hayati Kalimantan kepada masyarakat yang lebih luas.

Farhan menambahkan, generasi muda perlu memanfaatkan perkembangan teknologi sebagai alat untuk mendukung pelestarian lingkungan. Dengan dokumentasi dan publikasi digital yang baik, kekayaan flora lokal dapat lebih dikenal sekaligus menjadi bagian dari upaya konservasi jangka panjang.

Sementara itu, Muhammad Zidane, S.Pd., dari Pemuda Mangrove Nusantara membahas pentingnya ekosistem mangrove sebagai benteng alami yang melindungi kawasan pesisir Kalimantan dari ancaman abrasi, gelombang pasang, hingga dampak perubahan iklim.

“Di Hari Lingkungan Hidup Sedunia ini, mari belajar dari kokohnya akar tunjang mangrove. Mereka tegak dalam hening, menahan abrasi, dan memeluk pesisir Kalimantan agar kita tetap memiliki daratan untuk berpijak,” ungkapnya.

Menurut Zidane, keberadaan mangrove tidak hanya berfungsi menjaga garis pantai, tetapi juga menjadi habitat berbagai biota serta penyerap karbon alami yang berperan penting dalam menjaga keseimbangan lingkungan.

Ia menambahkan, pelestarian mangrove tidak dapat dibebankan hanya kepada pemerintah maupun komunitas lingkungan. Keterlibatan generasi muda sangat dibutuhkan sebagai penerus yang akan menjaga dan melanjutkan upaya konservasi ekosistem pesisir di masa depan.

Materi seminar kemudian dilanjutkan oleh Muhammad Wahyu Maulana Supit, S.Pd.Gr., yang membahas peran famili Myrtaceae sebagai tumbuhan pionir dalam rehabilitasi lahan kritis di Kalimantan. Menurutnya, kelompok tumbuhan tersebut memiliki kemampuan beradaptasi yang baik pada berbagai kondisi lahan sehingga berpotensi menjadi salah satu solusi dalam upaya pemulihan ekosistem.

Myrtaceae memiliki peran penting dalam proses rehabilitasi lahan karena mampu tumbuh pada berbagai kondisi lingkungan dan membantu mempercepat pemulihan ekosistem yang mengalami degradasi,” jelasnya.

Sementara itu, Narasumber terakhir, Muhammad Aldy Nurrachman, S.Pd., turut memperkenalkan konsep digitalisasi tumbuhan sebagai sarana membentuk kader konservasi yang adaptif terhadap perkembangan teknologi.

Ia menilai pemanfaatan teknologi digital dapat menjadi jembatan untuk memperluas edukasi lingkungan sekaligus memperkuat upaya pelestarian keanekaragaman hayati.

“Konservasi harus mampu mengikuti perkembangan zaman. Melalui digitalisasi tumbuhan, generasi muda dapat lebih mudah mengenal, mendokumentasikan, dan menyebarluaskan informasi tentang kekayaan hayati yang dimiliki daerahnya,” ujarnya.

Melalui kegiatan ini, para peserta tidak hanya memperoleh pengetahuan mengenai lingkungan, tetapi juga diajak memahami bahwa pelestarian alam membutuhkan kolaborasi dan tindakan nyata dari semua pihak.

Berbagai materi yang disampaikan para narasumber diharapkan mampu menumbuhkan kesadaran serta mendorong lahirnya generasi muda yang peduli terhadap keberlanjutan lingkungan dan keanekaragaman hayati di Kalimantan.

Sehingga melalui kegiatan seminar dan Aksi Dendrophile dapat menjadi momentum untuk menumbuhkan budaya peduli lingkungan di kalangan generasi muda, sekaligus mendorong lahirnya agen-agen perubahan yang mampu berkontribusi dalam menjaga keberlanjutan bumi dan mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) 2030.