JAKARTA – Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid mengajak generasi muda Indonesia untuk tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga berperan sebagai pencipta inovasi kecerdasan buatan (AI). Ajakan tersebut disampaikan dalam kegiatan Indonesia Youth Summit 2026 di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Jumat (30/10/2026).

Meutya menekankan pentingnya kepemimpinan digital, kemampuan berpikir kritis, keberanian berinovasi, serta tanggung jawab dalam menghadapi perkembangan teknologi. Dengan jumlah pengguna internet mencapai sekitar 260 juta orang dan kontribusi sebesar 30 persen terhadap ekonomi digital ASEAN, Indonesia dinilai memiliki peluang besar untuk menjadi pemain penting dalam perkembangan teknologi digital.

Pemerintah juga terus mendorong transformasi digital melalui tiga pilar utama, yakni terhubung, bertumbuh, dan terjaga. Selain memperluas akses serta mendorong pertumbuhan ekonomi digital, pemerintah turut memperhatikan perlindungan masyarakat, khususnya anak-anak, dari berbagai risiko di ruang digital seperti pornografi dan judi online.

Dalam menghadapi perubahan dunia kerja, Meutya menyampaikan bahwa perkembangan AI akan mengubah kebutuhan tenaga kerja. Pada 2030, diperkirakan sebanyak 92 juta pekerjaan akan tergantikan, sementara 170 juta pekerjaan baru berpotensi tercipta. Sebanyak 62 persen pemberi kerja juga membutuhkan tenaga kerja yang memiliki kemampuan AI, sedangkan 77 persen berencana meningkatkan keterampilan pekerjanya.

Untuk mendukung pengembangan talenta digital, pemerintah menghadirkan Garuda Spark Innovation Hub yang mencakup 10 pusat inovasi. Program tersebut telah menjangkau 15.700 talenta, mendukung 80 startup, serta menghasilkan investasi langsung senilai Rp429,5 miliar.

Meutya turut menyampaikan bahwa pemerintah sedang mengusulkan Peraturan Presiden tentang Etika Kecerdasan Artifisial dan Peta Jalan AI. Regulasi ini diharapkan menjadi pedoman agar pengembangan dan pemanfaatan AI di Indonesia berlangsung secara bertanggung jawab.

Ia juga mencontohkan pemanfaatan AI dan Internet of Things (IoT) dalam berbagai sektor, seperti pengelolaan lumbung padi di Sragen, membantu peternak ikan di Sukabumi, hingga mendukung pelaku UMKM dalam mengolah data pelanggan. Menurutnya, pengembangan AI perlu didukung data yang beragam agar hasil teknologi tidak menghasilkan bias.

Meutya menegaskan tiga kemampuan penting yang perlu dimiliki generasi muda, yaitu berpikir kritis dan berani bertanya, memiliki keberanian untuk berinovasi, serta bertanggung jawab atas teknologi yang dikembangkan. Ia mengingatkan bahwa manusia harus tetap memegang kendali dalam pemanfaatan AI.

Menjelang 100 tahun Sumpah Pemuda pada 2028, Meutya berharap generasi muda Indonesia dapat mengambil peran lebih besar dalam membangun masa depan teknologi nasional, bukan sekadar mengikuti perkembangan, tetapi turut menentukan arah inovasi untuk memajukan Indonesia tanpa kehilangan nilai kemanusiaan dan kecintaan terhadap tanah air.

“Meskipun teknologi sudah bisa seperti itu, keputusan akhir harus ada di manusia. Kita harus jadi pemimpin dari AI itu sendiri. Ada beberapa hal yang tidak bisa digantikan, ada empati, dan juga terakhir yang paling utama, cinta tanah air, karena AI tidak punya tanah air,” pungkas Meutya.