temanmedia.id, TANAH BUMBU – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan, terus melakukan penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) selama musim kemarau. Dari 29 kejadian yang tercatat, petugas berhasil menangani kebakaran dengan luasan mencapai 52,25 hektare.
Bupati Tanah Bumbu Andi Rudi Latif melalui Kepala Pelaksana BPBD Tanah Bumbu, H. Sulhadi, mengatakan kejadian karhutla tersebar di sejumlah kecamatan.
“Di Kecamatan Batulicin terdapat 14 kejadian dengan luas lahan yang terbakar mencapai 30 hektare dan tertangani seluas 14 hektare,” kata Sulhadi di Batulicin, Senin (24/8/2026).
Sementara itu, Kecamatan Kusan Tengah tercatat mengalami 10 kejadian dengan luas lahan terbakar sekitar 28 hektare dan delapan hektare di antaranya telah tertangani.
Adapun di Kecamatan Simpang Empat terdapat tiga kejadian, sedangkan Kecamatan Mantewe dan Kusan Hulu masing-masing satu kejadian.
Penanganan karhutla tersebut melibatkan berbagai unsur, mulai dari BPBD, TNI-Polri, Manggala Agni, Satpol PP, Tim Rescue PT Jhonlin, aparat desa hingga relawan.
Sulhadi menyebut, secara keseluruhan luas karhutla di Tanah Bumbu mencapai 100,75 hektare. Menurutnya, angka tersebut masih lebih rendah dibandingkan sejumlah kabupaten lain di Kalimantan Selatan.
“Kami telah berusaha dengan maksimal dalam menangani karhutla yang terjadi di Bumi Bersujud selama musim kemarau tahun ini. Dalam hal ini kami tidak main-main, bila ada yang terbukti melakukan pembakaran hutan atau lahan akan diproses secara hukum,” tegasnya.
Selain menangani kebakaran yang sudah terjadi, BPBD Tanah Bumbu juga terus memantau kemunculan titik panas melalui aplikasi Sipongi.
Berdasarkan data terbaru, tercatat 35 titik panas yang tersebar di sejumlah kecamatan di Tanah Bumbu.
Rinciannya, Kecamatan Mantewe terdapat empat titik, Bintang Lima lima titik, Batulicin dua titik, Kusan Tengah 15 titik, Sungai Loban dua titik, Teluk Kepayang lima titik dan Satui dua titik.
Namun, Sulhadi mengingatkan bahwa titik panas yang terdeteksi melalui aplikasi tidak serta-merta menunjukkan adanya kebakaran.
“Untuk memastikan titik panas itu benar-benar api atau panas disebabkan oleh hal lain, petugas langsung mengecek ke lokasi dengan membawa peralatan pemadam lengkap,” katanya.
Menurutnya, aplikasi Sipongi memiliki tingkat keakuratan sekitar 80 persen sehingga pemeriksaan langsung ke lapangan tetap diperlukan.
Ia mencontohkan, dalam beberapa kasus sebelumnya, titik panas yang terdeteksi ternyata berasal dari panas seng atap rumah maupun aktivitas warga yang sedang membakar sampah.
Sulhadi mengingatkan masyarakat untuk tidak melakukan pembakaran sembarangan karena dampak karhutla tidak hanya mengancam lingkungan, tetapi juga dapat mengganggu kesehatan dan aktivitas masyarakat.

Tinggalkan Balasan