temanmedia.id, BANJARMASIN – Stadion 17 Mei Banjarmasin mendadak terasa istimewa dengan kehadiran tamu terhormat dari Seiwun, Hadramaut, Yaman, Habib Muhammad bin Munsib Ali Al Habsyi.

Kedatangan ulama kharismatik tersebut bukan sekadar memantau sesi latihan, melainkan membawa deretan pesan moral dan spiritual yang mendalam bagi skuad Laskar Antasari, Selasa (3/11/2026).

Didampingi langsung oleh owner PS Barito Putera yang juga menjabat sebagai Wakil Gubernur Kalimantan Selatan, H Hasnuryadi Sulaiman, rombongan disambut hangat di tengah suasana markas latihan yang asri.

Bagi Habib Muhammad, atmosfer stadion yang berdampingan langsung dengan masjid serta diwarnai syiar ayat suci Alquran memberikan kesan tersendiri.

“Fasilitas olahraga yang menyatu dengan nilai-nilai religius merupakan sebuah karunia besar yang wajib kita syukuri,” ujar Habib Muhammad.

Kehadiran ulama asal Yaman ini langsung mencuri perhatian para penggawa Barito Putera.

Di hadapan para pemain yang datang dari berbagai belahan dunia mulai dari Brasil, Jepang, Yaman, hingga talenta lokal Indonesia, Habib Muhammad mengingatkan pentingnya menyeimbangkan kekuatan fisik dan ketahanan mental.

Habib Muhammad mengungkapkan, dirinya merasa bahagia ketika memasuki lapangan dan bertemu langsung dengan para pemain.

“Lingkungan stadion ini tidak hanya menjadi tempat menempa fisik, tetapi juga dekat dengan aktivitas keagamaan. Hal ini tentu merupakan sebuah hal yang patut kita syukuri,” sambungnya.

Dalam tausiyah singkatnya, ia menegaskan bahwa Islam menempatkan kesehatan dan kebugaran jasmani pada posisi yang terhormat.

Bahkan, riwayat sahih menyebutkan bahwa Nabi Muhammad SAW lebih mencintai umat yang kuat daripada umat yang lemah.

Perhatian Islam terhadap aktivitas fisik terpatri jelas melalui tradisi para ulama salaf yang kerap mengkaji ketangkasan seperti memanah, berenang, dan berkuda.

“Berbagai bentuk olahraga mendapatkan perhatian dalam Islam, baik melalui hadis Nabi Muhammad SAW maupun Alquran,” tutur Habib Muhammad.

Ia lantas mengaitkan filosofi sepak bola dengan sejarah Islam, salah satunya melalui kisah romantis perlombaan lari antara Rasulullah SAW dan Ummul Mukminin Aisyah RA.

Kemenangan yang diraih secara bergantian dalam kisah tersebut mengajarkan bahwa dinamika menang dan kalah adalah hal lumrah dalam sebuah kompetisi.

Kekalahan bukanlah celah untuk meluapkan amarah, melainkan bahan bakar introspeksi diri untuk bangkit lebih kuat, persis seperti perjuangan Aisyah yang mengevaluasi diri hingga mampu membalas kemenangan di kesempatan berikutnya.

Mentalitas sportif inilah yang dinilai wajib mendarah daging di dada setiap pemain Barito Putera.

Tidak hanya itu, sang ulama juga membakar semangat juang pemain lewat kisah keteladanan seorang pemuda belasan tahun yang gigih meminta izin ikut membela pasukan Islam, hingga membuktikan ketangguhannya mengalahkan para senior dalam ajang adu gulat.

Kisah tersebut membuktikan bahwa batas usia bukanlah penghalang mutlak, asalkan dibarengi tekad baja dan kesungguhan total.

Nilai fisik dan spiritual juga ia tarik dari ritual ibadah haji, di mana jemaah disunnahkan mempercepat langkah atau berlari kecil (sa’i) di antara Bukit Safa dan Marwah.

Gerakan cepat Rasulullah SAW saat berjalan pun merefleksikan tubuh yang bugar dan penuh energi.

Kendati demikian, Habib Muhammad mengingatkan bahwa otot yang kuat dan stamina prima tidak akan ada artinya tanpa kelembutan hati.

Mengutip sabda Nabi SAW, ia mengingatkan bahwa tolok ukur kekuatan sejati bukanlah seberapa tangguh seseorang dalam adu fisik, melainkan kemampuannya menjinakkan amarah dan menjaga pengendalian diri.

Pesan persatuan turut ditekankan di tengah keberagaman latar belakang budaya dan keyakinan para pemain Barito Putera.

Perbedaan kewarganegaraan dipandang sebagai warna yang justru harus disatukan dalam satu visi perjuangan yang luhur.

“Walaupun pemain Barito Putera dari negara berbeda, ada dari Brasil, Jepang, Indonesia, Yaman dan agama yang berbeda, tapi kita harus tetap berniat satu. Yakni berniat dalam kebaikan, bersatuan dalam kesatuan,” pungkasnya.

Sowan spiritual ini sukses menghadirkan energi positif bagi kubu Barito Putera.

Menjelang bergulirnya ketatnya kompetisi, skuad kebanggaan Urang Banua ini tidak hanya digembleng secara taktik dan fisik, tetapi juga dibentuk karakternya agar senantiasa menjunjung tinggi sportivitas, kerendahan hati, dan ketulusan di atas lapangan.