temanmedia.id, BANJARBARU – Bara yang masih bertahan di bawah permukaan lahan gambut menjadi salah satu persoalan yang membuat penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tidak mudah.

Api yang terlihat padam di permukaan dapat kembali muncul ketika panas di dalam gambut belum sepenuhnya hilang.

Kondisi tersebut mendorong Polda Kalimantan Selatan mengembangkan metode pemadaman menggunakan cairan surfaktan.

Metode ini diarahkan untuk menjangkau titik panas di bawah permukaan sekaligus menekan penggunaan air dalam proses pemadaman.

Penerapan metode tersebut dilakukan di kawasan Tambak Buluh, Kelurahan Landasan Ulin Timur, Kecamatan Landasan Ulin, Kota Banjarbaru, Minggu (6/9/2026).

Kapolda Kalsel Irjen Pol Dr. Rosyanto Yudha Hermawan, S.I.K., S.H., M.H., turun langsung melihat proses penerapan inovasi tersebut.

“Jadi kegiatan hari ini kita melakukan pemadaman dengan menggunakan cairan surfaktan,” ujar Rosyanto saat ditemui di lokasi.

Menurut Rosyanto, pengembangan metode tersebut merupakan hasil dari pengalaman personel selama kurang lebih dua bulan menghadapi karhutla.

Khususnya di lahan gambut, petugas kerap menemukan kondisi api yang kembali muncul meski sebelumnya telah dilakukan pemadaman.

“Karena kita sudah melakukan pemadaman kurang lebih dua bulan ini, khususnya di lahan gambut, api itu setelah kita padamkan muncul lagi,” jelasnya.

Persoalan tersebut kemudian mendorong jajaran Polda Kalsel mencari cara agar pemadaman tidak hanya menyasar api di permukaan, tetapi juga panas yang tertinggal di dalam gambut.

Sejumlah pendekatan dikembangkan, di antaranya kolam bioflok serta penggunaan pipa atau sumbu untuk mencapai titik panas di bawah tanah.

Sebelum digunakan di lapangan, cairan surfaktan terlebih dahulu menjalani pengujian selama lebih dari tiga minggu. Setelah melewati tahap pengujian, metode tersebut kini mulai diterapkan secara langsung pada lokasi karhutla.

“Sudah bukan lagi dengan melakukan uji coba, tapi sudah implementasi kita, sudah melakukan aplikasi-aplikasi di sini,” kata Rosyanto.

Dalam penerapannya, petugas terlebih dahulu melakukan pemetaan menggunakan drone. Langkah ini dilakukan untuk mengetahui titik-titik yang masih membutuhkan penanganan sehingga proses penyiraman dapat dilakukan secara lebih selektif.

Setelah titik panas teridentifikasi, petugas memasukkan pipa atau sumbu ke dalam lahan gambut. Cairan surfaktan kemudian dialirkan melalui sistem tersebut menuju bagian bawah lahan yang masih menyimpan bara.

“Proses tersebut dapat membuat area yang mendapatkan perlakuan menjadi dingin dalam waktu kurang dari satu menit,” sebutnya.

Ia juga menunjukkan titik yang sebelumnya telah mendapatkan perlakuan serupa lebih dari sepekan lalu dan menyebut api belum kembali muncul di lokasi tersebut.

Selain menyasar sumber panas di bawah permukaan, metode tersebut juga dikembangkan untuk mengatasi persoalan penggunaan air. Ketersediaan air menjadi tantangan tersendiri dalam pemadaman karhutla, terutama saat musim kemarau.

Berdasarkan hasil pengujian laboratorium yang disampaikan Rosyanto, penggunaan surfaktan disebut dapat meningkatkan efisiensi penggunaan air hingga 50 persen.

“Efisiensi tersebut diharapkan membuat proses pemadaman menjadi lebih efektif dan mengurangi kebutuhan petugas untuk berulang kali menangani titik yang sama,” harapnya.

Namun, pengembangan inovasi tersebut masih menghadapi kendala dari sisi produksi. Bahan baku surfaktan masih didatangkan dari Pulau Jawa, sementara Polda Kalsel belum memiliki peralatan untuk memproduksi cairan tersebut dalam skala besar.

Untuk sementara, produksi dilakukan secara manual. Dalam tiga hari, jajaran Polda Kalsel mampu menghasilkan sekitar 3.000 liter surfaktan. Dari jumlah tersebut, sekitar 1.000 liter dikirim ke Kalimantan Tengah untuk dilakukan pengujian.

Penerapan metode tersebut juga dipersiapkan agar dapat digunakan oleh jajaran kepolisian di wilayah lain. Seluruh Kapolres jajaran Polda Kalsel hadir untuk melihat langsung mekanisme pemadaman, mulai dari pemetaan titik panas hingga penggunaan surfaktan pada lahan gambut.

Kehadiran para Kapolres tersebut menjadi bagian dari upaya memperluas pemahaman mengenai metode baru tersebut. Dengan begitu, apabila dinilai efektif, penerapannya dapat disesuaikan dengan kondisi karhutla di masing-masing wilayah.

Kegiatan tersebut turut melibatkan unsur lintas instansi. Kapolda Kalsel hadir didampingi Wakapolda Kalsel Brigjen Pol Noviar, S.I.K., bersama jajaran Polda Kalsel serta sejumlah unsur pemerintahan dan TNI.

Rosyanto mengatakan inovasi tersebut juga diharapkan dapat meringankan beban personel yang selama dua bulan harus berjibaku menangani karhutla. Kondisi api yang berulang membuat petugas harus kembali ke lokasi yang sama ketika bara kembali muncul.

“Ini untuk meringankan beban mereka, karena mereka sudah dua bulan melakukan pemadaman,” ujarnya.

Meski berbagai metode pemadaman terus dikembangkan, Rosyanto menegaskan bahwa pencegahan tetap menjadi langkah utama. Ia mengajak masyarakat turut menjaga lingkungan dan tidak melakukan pembakaran lahan yang dapat memicu karhutla.

“Kita berharap masyarakat juga peduli terhadap lingkungan, menjaga lahannya supaya tidak terbakar dan tidak merugikan masyarakat yang lain,” pungkasnya.

Menurutnya, penanganan karhutla membutuhkan keterlibatan seluruh pihak, mulai dari masyarakat, TNI-Polri, pemerintah daerah, BPBD hingga relawan.

Inovasi seperti surfaktan menjadi bagian dari upaya menghadapi api yang sudah terlanjur muncul, sementara pencegahan tetap menjadi kunci untuk menekan potensi kebakaran sejak awal.