temanmedia.id, BANJARMASIN – Kehadiran jalur penerbangan kargo langsung dari Banjarmasin ke Tiongkok menjadi salah satu faktor yang mendorong lonjakan ekspor belut hidup asal Kalimantan Selatan sepanjang 2026.

Kemudahan akses logistik tersebut membuat pengiriman lebih cepat, efisien, dan mampu menjaga kualitas komoditas hingga tiba di negara tujuan.

Data Balai Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan (Karantina) Kalimantan Selatan mencatat, selama Januari hingga Juli 2026 telah dilakukan 72 kali pengiriman belut hidup ke Tiongkok dengan total volume mencapai 205,6 ton atau sekitar 1,4 juta ekor. Nilai ekspor komoditas tersebut mencapai Rp10,14 miliar.

Capaian tersebut meningkat signifikan dibandingkan tahun 2025 yang hanya mencatat 17 kali pengiriman dengan nilai ekspor sebesar Rp1,92 miliar.

Kepala Balai Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan Kalimantan Selatan, Erwin A.M. Dabukke, mengatakan peningkatan ekspor tidak terlepas dari terbukanya penerbangan kargo langsung yang memangkas rantai distribusi.

“Rantai logistik jadi lebih pendek. Kualitas belut lebih terjaga karena waktu tempuh lebih singkat,” ujar Erwin dalam kegiatan Go Ekspor Barantin Web Series Episode 3 yang digelar, Rabu (29/7/2026).

Menurutnya, sebelumnya para eksportir harus mengirim komoditas melalui Jakarta atau Surabaya sebelum diterbangkan ke luar negeri.

“Kondisi tersebut membuat waktu pengiriman lebih panjang dan berisiko memengaruhi kualitas belut hidup yang diekspor,” katanya.

Selain didukung akses logistik yang semakin baik, peningkatan ekspor juga ditopang oleh sistem pengawasan karantina yang memastikan setiap komoditas memenuhi standar kesehatan dan persyaratan negara tujuan.

Di sisi lain, Pelaksana Tugas Deputi Bidang Karantina Ikan Badan Karantina Indonesia (Barantin), Sugeng Sudiarto, menjelaskan bahwa setiap belut hidup yang akan diekspor wajib melalui pemeriksaan kesehatan dan dipastikan bebas dari hama maupun penyakit ikan.

“Belut hidup yang diekspor harus diperiksa kesehatannya dan dipastikan bebas hama penyakit ikan. Ini bukan hanya syarat negara tujuan, tetapi juga untuk menjaga kepercayaan pasar terhadap produk Indonesia,” katanya.

Sugeng menambahkan, Barantin tidak hanya menjalankan fungsi pengawasan, tetapi juga memberikan pendampingan kepada pelaku usaha dalam memenuhi berbagai persyaratan ekspor, mulai dari pemeriksaan kesehatan media pembawa hingga penerbitan sertifikat kesehatan.

Sementara itu, Kepala Pusat Pengembangan Sumber Daya Manusia Karantina, Wisnu Wasisa Putra, menilai edukasi kepada pelaku usaha menjadi bagian penting dalam memperluas pasar ekspor komoditas daerah.

Ia mengatakan pemerintah terus mendorong UMKM dan pelaku usaha perikanan agar memahami prosedur ekspor dan mampu memanfaatkan peluang pasar global yang semakin terbuka.

“Kami ingin pelaku usaha Kalsel melek peluang global dan siap bersaing,” singkatnya.

Potensi lahan basah dan kawasan rawa yang luas menjadikan Kalimantan Selatan sebagai salah satu daerah penghasil belut alam yang cukup besar di Indonesia.

Kondisi tersebut dinilai menjadi modal penting untuk meningkatkan daya saing komoditas perikanan daerah di pasar internasional.